Nazar Noe’man
Nazar Noe’man : Sekali di Udara Tetap di Jazz
KOMPAS, Kamis 6 Maret 2008

Pada sebuah sore gerimis di Kota Bandung terdengar Summertime mengalun dari permainan saksofon seniman jazz Joe Henderson. Hidangan jazz itu datang dari Radio KLCBS FM 100,4. Peracik suguhan itu adalah Nazar Noe’man (48). Dialah pemilik sekaligus pendiri KLCBS, yang selama lebih dari 25 tahun setia melayani telinga pendengar dengan musik jazz.
Oleh FR4-NS SARTONO
Kami diberi amanah dan tugas untuk memberi hiburan yang menarik dan mencerdaskan,” kata Nazar Noe’man ketika ditemui di rumahnya, di JaIan Karang Layung 10, Sukajadi, Bandung Utara.
Dari nama Karang Layung itulah lahir nama KLCBS yang merupakan singkatan dari Karang Layung Citra Budaya Suara. Penyiar radio itu dengan suara lembut mengucapkan. KLCBS dengan lafal bahasa Inggris yang kira-kira berbunyi: ke-el-si-bi-es (ke diucapkan seperti pada o-ke).
Dari Karang Layung yang asri dengan rimbun tanaman itulah, Nazar dan awak radio KLCBS menghidangkan jazz bagi penikmat jazz yang beragam seleranya Dalam waktu berdekatan, radio itu menyuguhkan permainan dari pianis McCoy Tyner yang bergaya hard bop, big band dari Bob Mintzer sampai The Ripping-tons yang berjenis smooth jazz. Hidangan jazz di radio bagi Nazar ibarat menu yang disiapkan untuk melayani penikmat jazz. Dia memosisikan diri sebagai peracik suguhan. Dibantu anak pertamanya, Muhammad Khirzan Noe’man (22), Nazar memprogram seluruh suguhan yang disantap, para penikmat jazz. Suguhan itu dirancang agar memuaskan beragam selera pendengarnya.
Pendengar yang tak suka The Rippingtons akan “memaafkan” ketika mereka disuguhi McCoy Tyner. Mereka yang menganggap Michael Frank bukan jazz bakal terpuaskan dengan hidangan Count Basie.
Untuk segmen smooth jazz yang konon banyak disukai pendengar “pemula”, Nazar cukup, cerdik memilih komposisi. Dia misalnya memilih komposisi yang bisa menjembatani era jazz swing dengan jazz hari-hari ini. Maka, diputarlah Moonlight Serenade dari Bob Florence. Komposisi itu dipopulerkan orkes Glenn Miller pada era big band atau era swing tahun 1940-an.
Dia juga terus mengikuti perkembangan jazz dunia hingga zamannya Jamie Cullum atau Michael Buble, yang digemari anak muda hari-hari ini.
Satu hal yang dipegang Nazar sebagai koki, ia memegang teguh cita rasa jazz. Dia tidak akan sembarangan menempatkan musik dari grup yang ke-jazz-annya tak bisa dipertanggungjawabkan. Ini setidaknya menurut selera Nazar.
Ia memberi contoh sebuah grup Indonesia yang dipuja penggemarnya sebagai kelompok jazz dan tampil di festival jazz besar di Indonesia. Tetapi, musik kelompok tersebut belum layak disuguhkan di KLCBS.
“Kami meracik secarajujur berdasarkan apresiasi kami dan musikalitas musisi Pemrogram harus tahu benar tokoh. era, dan perkembangan jazz di dunia dan Indonesia “ kata Nazar yang ditemui di rumahnya, yang hanya bersekat taman dengan dapur studio KLCBS.
Nazar menggunakan intuisi hingga pendengar dari berbagai ragam selera itu merasa nyaman. Di sisi lain, dia juga mempertimbangkan aspek pemasaran agar radio itu pun mendapatkan iklan.
Akan mubazir
kalau musik itu kamu
dengan sendiri.,
Di luar dua hal tersebut, Nazar juga memasukkan unsur pencerahan lewat siraman rohani singkat dan menyejukkan, yang disiarkan setiap jam, tepat pada pergantian waktu.
Pengalaman hidup
Apa yang disuguhkan KLCBS merupakan refleksi dari pengalaman hidup Nazar. Anak kedua dari empat bersaudara,itu telah diperkenalkan dengan musik jazz dan klasik oleh ayahnya, arsitek terkenal Achmad Noe’man—yang antara lain merancang Masjid Salman ITB dan Masjid At-Tin di Taman Mini Indonesia Indah.
Sejak masih kecil, telinga Nazar sudah akrab dengan permaman legends jazz, seperti Miles Davis, Thelonious Monk, sampai
John Coltrane. la juga terbiasa dengan musik klasik dari Bach, Bartok, hingga Mozart.
“Tahun 1970-an, uang jajan saya kumpulkan untuk beli piringan hitam Weather Report, (Charlie) Parker, (Herbie) Hancock, atau Chick Cores,” kata Nazar menyebut grup dan seniman jazz penting.
Tahun 1978 ketika duduk di kelas II SMA, Nazar terkena glukoma hingga mengakibatkan gangguan penglihatan. Aktivitas, seperi motocross atau off road, yang sebelumnya dia geluti praktis terhenti.
Berbagai upaya pengobatan telah dia tempuh, termasuk berobat ke Belanda, tetapi kurang menolong. Nazar terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah seperti kakak dan adik-adiknya yang menempuh pendidikan di luar negeri.
“Saya mengalami low vision sehingga otomatis pendengaran saya lebih kuat. Ayah saya bilang, ‘Zar, kenapa tidak mencoba memanfaatkan apa yang kamu miliki dan apa yang kamu dengarkan selama ini? Akan mubazir kalau (musik) itu kamu dengar sendiri’,” tutur Nazar menirukan ucapan sang ayah.
Sejak itu terpikir oleh Nazar untuk membuat pemancar radio sebagai medium berbagi pengalaman menikmati jazz. Kebetulan, sejak kecil Nazar sudah suka utak-atik soal keradioan. Ia telah banyak belajar tentang broadcasting sejak relatif masih kecil. Kebetulan pada akhir tahun 1960-an itu dia tinggal di Jalan Ganesha, dekat Kampus ITB, di mana ada mahasiswa teknik elektro, yang membuat pemancar “gelap”.
“Umur saya sepuluh tahunan waktu itu. Saya suka nongkrong di depan studio, namanya Radio 8EH ITB. Saya sering dimarahin. ‘Ehh… anak kecil, hati-hati nanti kesetrum’,” kata Nazar mengenang.
Dari hobi dan pengalaman masa kecil itu, Nazar mulai membuat pemancar. Mulanya ia hanya coba-coba membuat pemancar liar. Nazar akhirnya mendapat izin frekuensi FM 100,55.
Tahun 1982 radio KLCBS resmi mengudara dan memproklamasikan diri sebagai The Jazz Wave-gelombang jazz. Belakangan, KLCBS menggunakan gelombang FM 100,4. Bersama istrinya, Mimin Noe’man (46), dan dibantu Khirzan, anaknya, Nazar menjalankan KLCBS sebagai radio jazz yang berwibawa.
Bersyukur
Nazar membagi pedalanan hidupnya menjadi dua bagian besar, yakni masa sebelum terkena gangguan penglihatan dan masa setelahnya. Ia mensyukuri segala yang telah diperolehnya mulai dari hobi menikmati jazz, otomotif, dan bisnis bunga anggrek. la menganggap masa-masa sebelum peristiwa tahun 1978 itu sebagai persiapan menuju apa yang digelutinva hingga hari ini, yaitu dunia penyiaran lewat radio jazz.
“Pengalaman itu menjadi bahan persiapan ketika saya telah berubah. Allah telah mempersiapkan segalanya. Saya bersyukur,” katanya.
Oleh karena itu, KLCBS tak sekadar mengajak pendengar menikmati keindahan jazz. Radio itu juga menjadi medium untuk mengajak masyarakat bersyukur, merenung, dan berefleksi tentang hidup. Setiap pergantian jam, sang penyiar dengan suara lembut akan menyampaikan rentingan singkat.
Berangkat dari kecintaan dan pengalaman hidup pendirinya tersebut, KLCBS selama lebih dari seperempat abad setia mengudara dengan Jazz
Loading...
alhamdulillah KLCBS terus maju dan berkembang, membuat suasana Bandung semakin hidup…
sukses dan sehat selalu ya Kang Nazar….
danti - April 29, 2008 at 11:46 am
Well, sudah 21 tahun aku bersama KLCBS. Semenjak kelas 2 SMA aku sudah menjadi fan(atik) KLCBS. Banyak sekali acara bagus dilalui bersama dan banyak juga acara bagus yang menghilang, begitupun para personil penyiar KLCBS… ada yang jadi penyiar di luar negeri ada yang jadi penyiar TV, banyak pula suara baru penyiar yang terdengar.
Waktu masih muda dulu, he.. he.. acara kegemaran ya cuman KLCBS Fusion, harinya udah lupa yang jelas dari jam 20.00 sampai dengan 21.00 bareng Mas Tony Purnomo waktu itu.. gara-gara acara inilah yang secara tak sengaja ter-”tune in” sewaktu cari gelombang radio FM yang masih sangat jarang waktu itu di Bandung. Dari sini lah mulai belajar menyimak Jazz….
Sukses dan jaya selalu KLCBS dan teruslah menemani kami Jazz lover di Bandung.
canmasagi - June 12, 2008 at 3:11 pm
Saya mengenal KLCBS pada waktu SMA, sekarang baru lulus kuliah, dan masih mencari kerja.
Saya kagum sekali dengan perjuangan Pak Nazar setelah terkena glaukoma. Saya juga divonis glaukoma oleh dokter. Tapi alhamdulillah masih bisa melihat walaupun sebelah. Doakan saya agar bisa berkarya juga seperti Pak Nazar
Salam kenal dan Terus Berjuang!!!
fadiloke - August 27, 2008 at 9:35 pm